Entri yang Diunggulkan

HAMPIR HARI RAYA LAGI

Tak terasa hampir menginjak hari raya idul fitri lagi. Harapan desa wisata kemasan kedepan bisa lebih baik dari pada hari ini.   Pembe...

Rabu, 15 Juli 2015

KEGIATAN NGABUBURIT TH 2014

Diawali dengan rencana akan diadakan padusan yang jatuh pada:
hari                     : Jum'at
Tanggal               : 27 Juni 14
Dan di teruskan untuk acara ngabuburit selama 1minggu.
      
Namun ada kalanya kami hanya bisa merencanakan.dan kami kira pengalaman adalah sesuatu yang sangat berharga untuk kedepan yang lebih terencana baik,berlajar dari kekurangan masa lalu.

Untuk kegiatan padusan  pada saat ini kami kira kurang berhasil beberapa faktor menjadi evaluasi kami bahwa menempatkan sesuatu pada tempat yang lebih strategis dalam pempatan panggung dangdut sangat berpegaruh pada minat penonton

dan publikasi yang lebih intensif adalah penting untuk kesuksesan sebuah iven.pemilihan hari yang tepat kami kira juhga sangat penting untuk di pertimbangkan lebih lanjut pada iven2 yang akan datang.

Untuk kegiatan ngabuburit Alhammdulilah semua dapat berjalan dengan lancar . selama 6 hari berturut banyak peserta yang mengikuti jalanya kegiatan. sekali lagi kami banyak memetik pengalaman dari ini semua.

Semoga di tahun yang akan datang kegiatan kami lebih menggeliat, dalam masyarakat dan bermanfaat bagi penyelenggara segenap pengurus muda padi mas, pokdarwis, pemerintah desa, BKM amanah.

Kamis, 23 April 2015

HAMPIR HARI RAYA LAGI



Tak terasa hampir menginjak hari raya idul fitri lagi. Harapan desa wisata kemasan kedepan bisa lebih baik dari pada hari ini.

  Pembenahan  mungkin perlu di lakukan sebagai evaluasi kinerja pengelola.
  Alangkah lebih bijak apabila menggali potensi daerah sendiri dalam hal kuliner seni  dan        ketrampilan.

Ada kalanya kesatuan dan persatuan antar lembaga dan personal lebih di tingkat kan karena bagaimanapun juga ini adalah kerja wiyatan bakti .sudah barang tentu ada kekurangan sana sini.



Demikian selintas sekedar pemasukan barang kali bisa berguna di kemudian .

sawit akhir April 2015

Senin, 14 Juli 2014

MAMPIR SEJENAK

DESA WISATA PEMBANDING

   
Desa adat Penglipuran berlokasi pada Kabupaten Bangli yang berjarak 45 Km dari Kota Denpasar, Desa adat yang juga menjadi objek wisata ini sangat muda dilalui. Karena letaknya yang berada di Jalan Utama Kintamani, Bangli. Desa Penglipuran ini juga tampak begitu asri, keasrian ini dapat kita rasakan begitu memasuki kawasan Desa. Pada aeral Catus Pata yang merupakan batas memasuki Desa Adat Penglipuran, di sana terdapat Balaidesa, fasilitas masyarakat dan ruang terbuka untuk pertamanan yang merupakan areal selamat datang.

Desa ini merupakan salah satu kawasan pedesaan di Bali yang memiliki tatanan yang teratur dari struktur desa tradisional, perpaduan tatanan tradisional dengan banyak ruang terbuka pertamanan yang asri membuat desa ini membuat kita merasakan nuansa Bali pada dahulu kala. Penataan fisik dan struktur desa tersebut tidak lepas dari budaya yang dipegang teguh oleh masyarakat Adat Penglipuran dan budaya masyarakatnya juga sudah berlaku turun temurun.
Keunggulan dari desa Penglipuran ini dibandingkan dengan desa-desa lainnya di Bali adalah : Bagian depan rumah serupa dan seragam dari ujung utama desa sampai bagian hilir desa. Desa tersusun sedemikian rapinya yang mana daerah utamanya terletak lebih tinggi dan semakin menurun sampai daerah hilir. Selain bentuk depan yang sama, juga bahan tanah untuk tembok dan untuk bagian atap terbuat dari penyengker dan bambu untuk bangunan diseluruh desa.
Desa Adat Penglipuran ini termasuk desa yang banyak melakukan acara ritual, sehingga banyak sekali acara yang diadakan di desa ini seperti pemasangan dan penurunan odalan, Galungan, dll. Kondisi seperti ini sangat cocok untuk kunjungan wisata bagi anda, apalagi pada saat acara/kegiatan tersebut berlangsung. Sehingga kita dapat melihat langsung keunikan dan kekhasan dari desa Penglipuran tersebut.Walaupun anda tidak sempat datang pada saat acara tersebut, anda bisa menikmati suasana desa pada sore hari.
Kerena pada saat sore umumnya penduduk desa keluar rumah setelah selesai melakukan aktifitas rutin mereka di pagi dan siang hari, mereka keluar berkumpul bersama-sama penduduk desa yang lain dan tidak jarang sore hari mengeluarkan ayam jago kesayangan mereka dan tidak jarang mereka melakukan tajen/adu ayam tanpa pisau di kakinya.

Karang Memadu; Jangan Coba-Coba Berpoligami

Lelaki Penglipuran diharuskan menerapkan hidup monogami yakni hanya memiliki seorang istri. Pantangan berpoligami ini diatur dalam peraturan (awig-awig) desa adat. Dalam bab perkawinan (pawos pawiwahan) awig-awig disebutkan, krama Desa Adat Penglipuran tan kadadosang madue istri langkung ring asiki.
Artinya, krama Desa Adat Penglipuran tidak diperbolehkan memiliki istri lebih dari satu. Jika ada lelaki Penglipuran yang telah menikah naksir wanita lain lagi, maka cintanya hanya bisa dinikmati  sebatas dalam mimpi saja. Sebab kalau melanggar aturan ini, akibatnya bisa disisihkan dari desa pakraman. Jika lelaki Penglipuran beristri yang coba-coba merasa bisa berlaku adil dan menikahi wanita lain, maka lelaki tersebut akan dikucilkan di sebuah tempat yang diberi nama ‘Karang Memadu. Karang artinya tempat dan memadu artinya berpoligami. Jadi, Karang Memadu merupakan sebutan untuk tempat bagi orang yang berpoligami. Karang Memadu merupakan sebidang lahan kosong di ujung selatan desa.
Penduduk desa akan membuatkan si pelanggar itu sebuah gubuk sebagai tempat tinggal bersama istrinya. Dia hanya boleh melintasi jalan-jalan tertentu di wilayah desa. Artinya, suami istri ini ruang geraknya di desa akan terbatas. Tak cuma itu, pernikahan orang yang berpoligami itu juga tidak akan dilegitimasi desa, upacara pernikahannya tidak dipimpin oleh Jero Kubaya yang merupakan pemimpin tertinggi di desa dalam pelaksanaan upacara adat dan agama.
Implikasinya karena pernikahan itu dianggap tidak sah, maka orang tersebut juga dilarang bersembahyang di pura-pura yang menjadi emongan (tanggung jawab) desa adat. Mereka hanya diperbolehkan sembahyang di tempat mereka sendiri.
Melihat hukuman yang menakutkan yang akan diterima oleh lelaki yang bermaksud berpoligami ini, sampai sekarang tidak ada lelaki Penglipuran yang berani bersujud di kaki istrinya agar diijinkan menikah lagi. Karang Memadu yang disiapkan oleh desa tetap tidak berpenghuni dan bahkan oleh penduduk desa dianggap sebagai karang leteh (tempat yang kotor).
Mungkin lelaki Penglipuran lebih memilih hidup nyaman dengan satu istri daripada digilir dua istri dan dicuekin orang se-desa.
Penglipuran sebuah desa di kabupaten Bangli, propinsi Bali tepatnya di kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli. Desa Penglipuran terletak pada jalur wisata Kintamani, sejauh 5 Km dari pusat kota Bangli, dan 45 Km dari pusat kota Denpasar.
Desa Penglipuran merupakan satu kawasan pedesaan yang memiliki tatanan spesifikasi dari struktur desa tradisional, sehingga menampilkan wajah pedesaan yang asri. Penataan fisik dari struktur desa tersebut tidak terlepas dari budaya masyarakatnya yang sudah berlaku turun-temurun. Keunggulan dari desa adat Penglipuran ini terletak pada struktur fisik desa yang serupa seragam dari ujung utama desa sampai ke bagian hilir desa. Keseragaman dari wajah desa tersebut di samping karena adanya keseragaman bentuk, juga dari keseragam bahan yaitu bahan tanah untuk tembok pagar (penyengker) dan gerbang rumah (angkul-angkul) dan atap dari bambu yang dibelah untuk seluruh bangunan desa.
Topografi desa tersusun sedemikian rupa di mana pada daerah utama desa ini menyebabkan pemerintah Propinsi Bali menetapkan desa Penglipuran sebagai daerah tujuan wisata sejak tahun 1992.
Selain keseragaman bentuk bangunan, desa yang terletak pada ketinggian 700 meter dari permukaan laut ini juga memiliki sejumlah aturan adat dan tradisi unik lainnya. Salah satunya, pantangan bagi kaum lelakinya untuk beristri lebih dari satu atau berpoligami. * (ratman aspari)

 

STUDI BANDING DESA WISATA JELOK


Wisata di Kampung Jelok

Di Desa Wisata Jelok, Anda bakal dimanjakan oleh suasana kampung dengan penduduknya yang ramah. Anda bisa berpetualang, bertani, belajar bahkan makan malam di atas Kali Oya.
Dusun Jelok, Desa Beji, Patuk Gunungkidul, konon terisolir karena akses jalan sangat sulit, harus melewati Kali Oya selebar 80 meter. Untuk bersekolah, siswa menyeberang kali dengan gethek terbuat dari bambu. Tahun 1996, jembatan dibangun atas inisiatis masyarakat dan mahasiswa KKN dari UNY.
Jembatan sepanjang 82 meter dengan lebar satu meter itu kemudian menjadi satu-satunya jalan menuju Jelok, yang mulai 2010 dikenal sebagai Desa Wisata. “Sebenarnya ada jalan lain, tapi harus melewati hutan dan jaraknya sangat jauh,” kata Aminudin Azis, penggagas Desa Wisata Jelok.
Melihat kegotongroyongan masyarakat yang begitu besar, Azis kelahiran Wonosori, Gunungkidul yang saat itu turut KKN tergelitik untuk membantu lebih jauh. Tahun 2006, jiwa kegotongroyongan itu mulai sirna akibat bantuan pemerintah kepada korban gempa tidak merata.
Keharmonisan kampung pun terkoyak. Sebagai orang luar, Azis kerap dicurigai masyarakat. Tapi, kemudian ia dan beberapa pemuda mampu memupuk kembali kebersamaan warga secara pelan-pelan, salah satunya dengan mendirikan gubug di tanah khas desa. Gubug yang hingga kini berdiri kokoh itu dimanfaatkan untuk tempat belajar anak-anak dan ngobrol setiap malam.
Dari obrolan, tumbuhlah gagasan agar kampung Jelok meningkat secara ekonomi disamping tetap melestarikan budaya dan lingkungan. Pada 2010, digelar festival dan merti kali oya, dengan serangkaian kegiatan lomba lukis, mewarnai nonbar, kesenian tradisional. “Tujuannya agar masyarakat kumpul untuk berdoa bersama-sama di sungai,” jelas Azis.
Sejak itulah, Jelok mulai dikenal. Azis dan warga memanfaatkan potensi ini untuk membentuk konsep desa wisata berbasis masyarakat, budaya dan lingkungan. Wisata di kampung seluas 75 hektare ini dibagi menjadi wisata petualangan, yakni arung jeram, menangkap ikan, bersepeda, berkemah, outbond. Wisata pendidikan, membaca di perpustakaan, melukis, menggambar, bertani oragnik, membuat biogas, pupuk kompos dan arang. Sementara wisata budaya, seperti pertunjukan merti kali, jathilan, macapat.

Ramah
Paling menarik di desa wisata yang terletak 30 kilometer dari Kota Jogja ini adalah penduduknya yang ramah. Anda bisa bermalam di rumah warga, merasakan masakan ala ndeso yang dipetik dari sawah organik dengan biaya yang sangat murah, Rp50.000 per malam untuk 4 orang. Delapan pemandu wisatanya pun sangat ramah, mereka akan mefasilitasi wisata yang Anda pilih.
Jelok juga menyediakan paket wisata outbond untuk anak-anak TK-SD dan umum. Menariknya, kampung berpenduduk 105 KK ini tidak mematok harga. “Misalnya ada yang pesan untuk outbond, disesuaikan dengan keinginan mereka maunya permainan apa. Pernah, karena sekolah dananya sedikit, satu anak Rp50.000 itu sudah termasuk game selama 4 jam, makan siang dan snack,” tambah koordinator lintas agama di Gunungkidul ini.
Paket wisata ini tentu sangat sayang jika dilewatkan, karena di Jelok Anda tidak hanya bisa bersenang-senang, tapi memperoleh pengalaman yang luar biasa. Mulai akhir Juni 2012, dinner on the river sudah bisa dinikmati. Layaknya di belahan Eropa, makan malam di atas gethek bambu yang terapung di kali oya ini kian mantap, dihibur alunan musik dan tembang macapat di atas sampan. Dinner ini biasanya dilangsungkan setelah pengunjung pada siang harinya letih outbond. Seakan ‘pulang’ ke kampung halaman, mereka bisa menyantap ikan hasil tangkapannya sendiri, dengan lauk sayur lodeh, urap dan sambal ala ndeso. Selamat mencoba…!
sumber : harianjogja

Sabtu, 14 Juni 2014

SAMIRAN



                        PEMBANDING DESA WISATA KEMASAN
Gunung Merapi yang ada di desa Samiran
Desa Samiran terletak di Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali
style="text-align: center;">Merapi jika dilihat dari lapangan Samiran Desa samiran berada di lereng gunung merapi yang memiliki panorama yang sangat indah dan karena keindahan dan keasrian desa inilah maka banyak turis yang sengaja datang ke desa Samiran untuk menikmati keindahan alam guna melepas sejenak kejenuhan sehari-hari mereka, Merasakan suasana alam pedesaan yang masih alami khas daerah pegunungan dengan menginap dirumah penduduk setempat atau menyewa homestay yang juga tersedia di sana dan mengikuti aktivitas keseharian masyarakat Desa Samiran. Sebagian besar penduduknya adalah petani sayur organik (wortel, brokoli, kol, tomat dan sayur mayur lainnya) Namun tidak hanya itu masih ada banyak, dan sebagian lagi adalah berkebun seperti Menanam sayur, memetik buah stawberry   tomat dan berternak kelinci,sapi. memerah susu sapi dan kambing etawa.

Hal lain yang dapat kita peroleh dari sana adalah, pembuatan makanan khas (jadah) makanan khas samiran,  Belajar kesenian tradisional (Tari Turonggo Seto, Topeng Ireng dan gamelan), Tak jauh dari desa samiran ada tempat yang di gunakan sebagai pos pendakian pertama yang disebut dengan new selo, paling sekitar dua kiloan dari desa samiran.. sebelum itu juga ada tempat yang sangat indah yang sering di gunkan warga sekitar untuk acara-acara besar seperti tahun baru  dan lain-lain yaitu joglo..tapi kalau joglo tersebut paling sekitar setengah kilo dari desa samiran.
-samiran itu indah-